SUPALAMEDIA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang merespons cepat anjloknya hasil panen di sejumlah wilayah pada musim penen kali ini. Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid, telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat agar petani segera mendapatkan bantuan.
Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang menyebutkan, sekitar 1.310 hektare lahan pertanian di beberapa kecamatan terdampak serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berupa hama tikus dan penggerek batang (kresek). Serangan ini berimbas pada penurunan kuantitas produksi petani.
Data tersebut merupakan hasil pengamatan dari Instalasi Pengamatan, Peramalan, dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (IP3OPT) Provinsi Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang, A. Sinapati Rudi, menjelaskan bahwa salah satu penyebab serangan hama adalah pergeseran jadwal tanam yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
“Pengendalian hama yang seharusnya dilakukan pada fase kritis juga mengalami keterlambatan karena bertepatan dengan bulan Ramadan, di mana sebagian petani masih fokus menjalankan ibadah sehingga menunda penyemprotan,” ujar Sinapati saat mendampingi Bupati Pinrang meninjau lahan pertanian di Kelurahan Sipatokkong, Kecamatan Watang Sawitto, Rabu (15/4).
Ia menambahkan, penurunan kuantitas hasil produksi tidak terjadi secara merata. Beberapa kecamatan masih mendapatkan hasil yang sama dengan musim tanam sebelumnya.
Baca Juga:
Bupati Pinrang, H. A. Irwan Hamid, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi perhatian serius karena dampaknya langsung dirasakan petani.
“Pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani agar bisa kembali bangkit pada musim tanam berikutnya,” tegas Bupati Irwan.
“Kita akan mengupayakan penambahan bantuan bibit bagi petani terdampak agar kerugian yang dialami bisa diminimalisasi dan produksi pertanian dapat kembali meningkat,” lanjutnya.
Baca Juga:
Bupati juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam memberikan edukasi dan pendampingan, khususnya terkait pola tanam dan waktu pengendalian hama yang tepat.
“Dengan pendampingan yang intensif, kita harapkan petani bisa lebih sigap dalam melakukan pengendalian, sehingga hasil panen tetap optimal dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan mereka,” kata Bupati Irwan.
Tiga kelompok tani di Kelurahan Sipatokkong, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, mengalami penurunan drastis hasil produksi padi pada musim tanam kali ini akibat serangan hama dan cuaca ekstrem.
Baca Juga:
Ketua Kelompok Tani Sipakainga, Muhammad Jupri, mengungkapkan bahwa hasil panen tertinggi saat ini hanya mencapai 4,1 ton per hektare. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal yang rata-rata mencapai 9,2 ton per hektare, bahkan pernah menyentuh puncak 12 ton per hektare.
“Yang paling parah, ada yang hanya menghasilkan sekitar 200 kilogram per hektare,” ujar Jupri saat ditemui di lokasi persawahan Awan-awan, Kelurahan Sipatokkong.
Jika dibandingkan dengan hasil normal, penurunan tersebut setara dengan 98 persen untuk kasus terparah.
Baca Juga:
Menurut Jupri, penyebab utama anjloknya hasil panen adalah serangan OPT berupa penggerek batang dan hawar daun bakteri (penyakit kresek). Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi sejak masa tanam hingga tahap pembuahan.
“Kelembapan tinggi akibat hujan memicu perkembangan cepat hawar daun bakteri dan mempercepat pergerakan OPT,” jelasnya.
Jupri mengakui adanya keterlambatan jadwal tanam yang tidak selaras dengan ketetapan Pemkab Pinrang. Keterlambatan itu disebabkan upaya penyeragaman waktu tanam dengan petani di wilayah hilir untuk mengantisipasi hama tikus, serta adanya proyek rehabilitasi saluran irigasi di wilayah Saddang yang menghambat pengolahan lahan.
Ia juga mengakui adanya kelalaian petani dalam penanganan hama menjelang Lebaran, meskipun sebelumnya sudah diingatkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).(*)









