Scroll untuk baca artikel
Supala Media
Supala Media
Daerah

Dampak El Nino, KNPI Pinrang Klaim Kerugian Petani Rp 7,4 Miliar, Harap Ada Langkah Terukur dari Pemkab

×

Dampak El Nino, KNPI Pinrang Klaim Kerugian Petani Rp 7,4 Miliar, Harap Ada Langkah Terukur dari Pemkab

Sebarkan artikel ini
Dampak El Nino, KNPI Pinrang Klaim Kerugian Petani Rp 7,4 Miliar, Harap Ada Langkah Terukur dari Pemkab Supalamedia
Apandi (kiri)

SUPALAMEDIA— Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pinrang mengkritik langkah Pemerintah Kabupaten Pinrang dalam menangani dampak fenomena El Nino. Organisasi kepemudaan itu menilai upaya yang dilakukan terlalu lambat dan bersifat reaktif di tengah ancaman gagal panen yang meluas di sejumlah kecamatan.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Departemen Advokasi Masyarakat Rentan DPD KNPI Pinrang, sedikitnya 460 hektare lahan pertanian dipastikan gagal panen akibat kekeringan yang melanda dua kecamatan . Potensi kerugian ditaksir mencapai Rp 7,4 miliar.

Supala Media

“Langkah Pemkab Pinrang sangat lambat, jauh dari prinsip mitigasi. Hampir setiap kecamatan di Pinrang saat ini petani berteriak soal minimnya pasokan air bagi lahan pertanian,” ujar Ketua Bidang Advokasi Masyarakat KNPI Pinrang, Apandi, Kamis (23/7/2026).

Apandi menegaskan angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya musim kemarau yang diprediksi hingga September 2026. Ia menyoroti bahwa sekitar 70 persen lahan terdampak merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.

Ia juga mengingatkan bahwa berdasarkan Sensus Pertanian 2023, Kabupaten Pinrang memiliki 14.826 petani gurem atau petani yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare. “Mereka harus menjadi buruh tani atau petani penggarap demi menambah penghasilan. Sekarang mereka justru paling terdampak,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, KNPI Pinrang berencana mengirimkan surat resmi ke DPRD Kabupaten Pinrang untuk mendorong Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna mempertanyakan secara lugas langkah Pemkab dalam penanggulangan kerugian petani. “Kami tidak hanya melakukan pemetaan lahan, tetapi juga menghitung potensi kerugian petani yang mencapai Rp 7,4 miliar dari total luas lahan yang gagal panen,” pungkas Apandi.

Sementara itu, Bupati Pinrang, Irwan Hamid, sudah turun langsung meninjau lokasi terdampak di Kelurahan Tadokkong (Kecamatan Lembang), Desa Buttusawe (Kecamatan Duampanua), dan Desa Salipolo (Kecamatan Cempa), Kamis (23/7/2026). Ia menegaskan pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi kondisi ini.

“Kita akan terus berupaya semaksimal mungkin agar lahan pertanian masyarakat tetap mendapatkan suplai air. Yang kita jaga bukan hanya tanamannya, tetapi juga keberlangsungan ekonomi para petani dan ketahanan pangan daerah,” ujar Bupati Irwan.

Pemkab Pinrang telah mengerahkan sekitar 300 unit pompa bantuan Kementerian Pertanian dan mobil tangki dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang untuk menyedot air dari sungai menuju areal persawahan. Selain langkah teknis, pemerintah juga menempuh pendekatan spiritual dengan menggandeng para ulama untuk berdoa bersama meminta hujan.

Berdasarkan data pemetaan yang dihimpun DPD KNPI Pinrang, lahan yang dipastikan gagal panen tersebar di Kecamatan Duampanua seluas 460 hektare yang terdiri atas Desa Bungi (315 hektare), Desa Buttusawe (121 hektare), Desa Barugae (5,84 hektare), dan Kelurahan Data (28,46 hektare). Sementara di Kecamatan Lembang mencapai 466,24 hektare yang terdiri atas Desa Sabbang Paru (130 hektare) dan Kelurahan Tadokkong (336,24 hektare). (Apandi)

 

Supala Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   10   =